Usaha Pemuda Desa Beromset 30 Juta Per Bulan

Monday, May 8th, 2017 - Peluang Usaha Kecil

PELUANGUSAHABARU.info

Usaha Pemuda Desa Beromset 30 Juta Per Bulan

Oleh: Farid Hadi JelivanMemproduksi camilan ampyang ternyata cukup menjanjikan. Ampyang ialah jajanan khas dari Gunungkidul, Jogja, yang dibuat dari campuran gula kelapa dan kacang tanah. Meski begitu hanya ada beberapa orang di desa Desa Kedungkeris, Guningkidul, yang menekuni usaha ini. Salah satunya ialah Ibu Jilah dan suaminya Bowo. Pasangan ini setiap hari memproduksi ampyang dan guloklopo (jajanan yang dibuat dari gula dan kelapa) tuk dipasarkan ke Jogja, Klaten dan Karanganyar.Kisah perjalanan Jilah tak semulus apa yang kita duga. Pada usia 20 tahun, Jilah mengikuti kebiasaan anak-anak muda desanya tuk merantau ke kota. Mereka berusaha memperbaiki nasibnya yang susah. Desa Kedungkeris, kecamatan Nglipar, Gunungkidul dimana ia berasal termasuk desa yang miskin dan kering. Baginya yang hanya mempunyai sejengkal tanah punya orang tuanya, tak mungkin berharap banyak dari hasil bumi. Dengan berbekal sedikit ilmu sewaktu sekolah di desanya, ia merantau ke kota menjadi buruh kecil di sebuah peruhaan rokok di Manahan, Solo. Penghasilannya hanya mencukupi tuk keperluannya sehari-hari. Akhirnya setelah bertahan 4 tahun, pada tahun 1997 ia memilih keluar dari pekerjaannya dan membantu usaha Bowo, suaminya. Bowo yang pernah menjadi buruh produsen ampyang mencoba merintis sendiri dengan membuat ampyang dan memasarkannya.Rintisan usaha Jilah dan Bowo tak bagitu mulus. Kondisi krisis pada tahun 1998 ikut memengaruhi perkembangan usahanya. Modalnya yang kecil dan bahan baku yang mahal membuat usahanya tak kian berkembang. Akhirnya pada tahun 2007 Jilah bersama Bowo memutuskan memutuskan tuk kembali ke desanya di Kedungkeris, Gunungkidul. Mereka berdua meneruskan usaha yang pernah ditekuninya di Solo, yakni membuat ampyang. Usaha ampyang di desanya ternyata jauh lebih menyenangkan. Bahan baku gula kelapa, kacang tanah, dan jahe mudah didapat dan harganya juga lebih murah. Sehingga biaya produksinya lebih kecil.Jilah dan Bowo memang sosok yang gigih dan sabar menjalankan usahanya. Mereka berdua sering rasan-rasan bagaimana caranya agar usaha mereka berkembang. Mereka mencatat beberapa kesulitan yang masih dihadapi, antara lain 1) komposisi rasa ampyang buatannya mungkin kurang memenuhi selera konsumen, 2) daya tahan produksinya yang hanya bertahan seminggu, 3) pasarnya masih terbatas di lingkungannya, 4) kemasannya yang masih tradisionil dibungkus dengan plastik sehingga kurang menarik, dan 5) modal yang minim.Dengan kesabarannya dan ketekunannya akhirnya usahanya berbuah. Pertanyaan-pertanyaan di atas mulai diperoleh jawabannya. Jilah dan Bowo yakin bahwa Allah SWT akan membuka jalan apabila kita berusaha keras. Gempa Bantul 2006 ternyata jalan yang diberikan Tuhan kepada mereka. Mereka bergabung ke dalam kelompok usaha kecil yang difasilitasi oleh sebuah program dari Swisscontact tuk membantu rehabilitasi pasca bencana. Jilah dan Bowo dengan sungguh-sungguh mengikuti pelatihan yang mereka berikan dan mempraktikannya. Ampyang dan guloklopo buatannya semakin enak dan lebih tahan lama dengan tanpa bahan pengawet. Rasa jahenya terasa segar di tenggorokan dan pas sekali manisnya. Ketika digigit terasa lebih lembut dibandingkan sebelumnya. Kemasannya pun telah lebih baik meskipun tetap sederhana. Demikian pula kesulitan modal dan pasar dibantu diselesaikan oleh koperasi yang ia ikuti.Semenjak tahun 2008 usaha ampyang dan guloklopo yang diproduksi oleh Jilah dan Bowo semakin disukai oleh pelanggan. Setiap hari mereka menyisihkan waktu sekitar 3 jam tuk memproduksi 150-200 kemasan. Beberapa tamu dari Jakarta telah mulai mengenal dan memesan ampyang buatannya. Omsetnya sekarang mencapai 30 juta per bulan. Pada saat lebaran atau liburan natal dan tahun baru bahkan dapat meningkat 10 kali lipat.Penghidupan keluarga Jilah dan Bowo mulai kecukupan. Rumahnya telah dibangun gedong dan ada kendaraan tuk keperluan sehari-hari. Anak pertamanya telah lulus SMK dan sekarang merantau di Malaysia. Anak kedua masih sekolah di SMK Wonosari, sedang yang paling kecil baru berusia dua tahun. Kebahagiaan dan kebanggaannya terpancar jelas dari ceria wajahnya.Sosok Jilah dan Bowo ialah teladan bagi kita orang-orang desa tuk melihat peluang dan tekun merintis perbaikan nasibnya. Pelajaran merantau di kota tak selalu menjanjikan nasib yang lebih baik. Jilah dan Bowo mengajak kita orang-orang desa tuk mengisi pembangunan. Mari kita syukuri HUT RI ke-70 dengan kebangkitan desa merintis usaha dan memperbaiki ekonomi warga. Terlebih dengan adanya UU No. 6/20014 tentang Desa yang memberikan kewenangan dan transfer fiskal yang memadahi, desa harus berani aktif mengisi ruang dan peluang yang dipunyainya.***Baca juga : Menggenjot Penjualan Produk UKM lewat Instagram

Source: http://www.berdesa.com/pemuda-desa-beromset-30-juta-per-bulan/

Usaha Pemuda Desa Beromset 30 Juta Per Bulan | admin | 4.5