UMKM dan Desa

Wednesday, May 17th, 2017 - Peluang Bisnis Desa

PELUANGUSAHABARU.info

UMKM dan Desa

Oleh: Yuswo HadyHari Rabu malam (5/8) lalu saya ketemu dan berhalal bihalal dengan para “UMKM hero”, para tokoh pemimpin komunitas yang peduli memajukan UMKM (usaha mikro kecil menengah) Indonesia. Mereka antara lain ialah pak Budi Isman (pendiri Komunitas Smartpreneur), pak Subiakto (pakar branding), mas Badroni Yuzirman (pendiri Komunitas Tangan Di Atas), mas Jaya Setiabudi (pendiri Young Entrepreneur Academy), mas Emille Jayamata (Komunitas Organik Indonesia), dan lain-lain. Kami diundang oleh temen-temen Telkom DBS, divisi yang khusus membidangi sektor bisnis UMKM. Di situ kami ngobrol ngalor-ngidul mengenai bagaimana memajukan UMKM Indonesia.Yang menarik dari forum itu, rupanya isi otak kami sama. Kami memang punya movement masing-masing yang berbeda tuk memajukan UMKM, namun rupanya mempunyai spiritdan keresahan yang sama. Keresahan terbesar yang kami rasakan ialah makin mengkhawatirkannya dominasi kapitalisme global lewat kehadiran perusahaan-perusahaan global asing yang merasuk hingga ke urat nadi perekonomian negeri ini.Praktis seluruh sektor industri (mulai dari pertambangan, telekomunikasi, perbankan, otomotif, konsumer, elektronik, farmasi, ritel, hingga film dan musik) secara sistematis dan struktural dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing lewat kekuatan modal, teknologi, manajemen, dan SDM berkelas dunia. Dalam forum tersebut teman-teman khawatir dengan tren terakhir dimana jagad online shop kita secara agresif mulai dikuasai kekuatan modal asing. Para pendiri online shop lokal begitu bangga ketika start-upyang mereka rintis dibeli pemodal asing. Tentu saja, sebab triliunan rupiah masuk ke pundi-pundi kekayaan mereka.UMKMSeperti teman-teman yang lain, dalam forum tersebut saya mengemukakan konsern mengenai keresahannasional ini. Saya bilang bahwa “pertahanan terakhir” kemandirian ekonomi Indonesia ditentukan oleh dua hal, yaitu UMKM dan desa. Saya katakan di situ, jika perusahaan-perusahaan global asing menguasai perusahaan-perusahaan besar lokal (jumlahnya tak sampai 5000 biji), maka itu masih dapat diterima. Namun jika sampai seluruh perusahaan UMKM kita (jumlahnya ada sekitar 50 juta biji) dikuasai oleh kekuatan asing, itu baru terjadi “kiamat” nasional. Jika itu terjadi maka so pasti benteng kemandirian ekonomi nasional betul-betul jebol.UMKM betul-betul menjadi senjata terakhir kemandirian ekonomi nasional sebab kekuatan modal asing akan enggan mencaploknya. Ya, sebab ukuran mereka kecil maka tentu saja tak menarik tuk diakuisisi sebab potensi ekonominya kecil. Namun perlu diingat, kecil jika jumlahnya banyak hingga jutaan dan mereka bersatu-padu bersinergi, maka mereka akan menjadi sebuah kekuatan yang maha besar. “Smalls are the new big” ialah ungkapan yang pas tuk menggambarkan kekuatan jutaan UMKM kita.Bicara kekuatan jutaan UMKM kita, serta-merta saya teringat dengan perang gerilya merebut kemerdekaan. Keberhasilan para pejuang gerilya kita melawan Belanda terutama ditentukan oleh “small power” ini. Kenapa pejuang gerilya kita yang hanya bersenjata bambu runcing dan senapan sulit ditundukkan tentara Belanda yang mempunyai senjata lengkap seperti meriam dan tank? Tak lain sebab pejuang kita “kecil-kecil”, pergerakannya tak berpola seperti amuba, sulit dideteksi keberadaannya, dan begitu lincah melakukan penyerangan.Nah, saya gambarkan jutaan UMKM kita layaknya pejuang gerilyawan yang kecil-kecil banyak, super lincah, dan sulit dikooptasi dan dikendalikan oleh kekuatan korporasi global asingDesaLalu bagaimana dengan desa? Kenapa desa ialah kekuatan pamungkas kemandirian ekonomi nasional. Jika Ibukota, provinsi, kota/kabupaten di kuasai oleh kekuatan korporasi global asing maka itu masih dapat diterima. Namun jika sampai terjadi desa mereka kuasai, maka pada saat itu juga akan terjadi “kiamat” nasional. Negeri ini akan jatuh terpuruk oleh suatu bentuk penjajahan baru. Penjajahan bukan oleh kekuatan senjata, namun oleh kekuatan modal dan kapitalisme yang menghisap.Tuk memberikan gambaran gampang saya memberi contoh dominasi gerai-gerai waralaba makanan asing yang sepuluh tahun terakhir begitu agresif melakukan ekspansi pasar di seluruh penjuru tanah air. Ekspansi waralaba makanan asing ini begitu massif meminggirkan kuliner-kuliner lokal yang menjadi kekayaan Indonesia. Itu sebabnya dalam berbagai kesempatan seminar publik saya sering curhat mengenai kekawatiran bahwa pecel, rawon, rendang, atau gudeg makin tak dikenal dan kian tak dikonsumsi oleh anak-cucu kita, kalah pamor oleh kuliner asing.Nah, jika gerai-gerai waralaba makanan branded asing itu hanya menguasai ibukota, provinsi, atau kabupaten/kota, maka itu masih dapat ditolerir. Namun jika sampai mereka hadir hingga di tingkat desa, maka pada saat itu jebol pula tanggul kemandirian ekonomi nasional kita. Dengan tingkat laju ekspansi waralaba makanan asing seperti sekarang, tak tertutup kemungkinan jebolnya tanggul ini terjadi dalam waktu yang tak lama.Sekarang saja ekspansi mereka telah meluber hinggadi tingkat kabupaten/kota.Tinggal sejurus lagi mereka masuk kecamatan dan desa. Jika dulu kita mengenal AMD singkatan “ABRI Masuk Desa” maka nanti kita bakal mengenal “Asing Masuk Desa”. Jika itu terjadi, saya takut suatu saat akan ada “Museum Kuliner Nusantara” dimana anak-cucu kita yang berkunjung takjub menyaksikan pecel, rawon, atau gudeg yangjadul dan langka ditemui.Jika betul UMKM dan desa menjadi pilar kemandirian ekonomi nasional, lalu apa agenda besar yang harus kita rintis dan kembangkan? Pekerjaan besarnya cuma satu, yaitu menciptakan wirausahawan UMKM di tingkat desa (grass root) dalam jumlah besar, tak hanya ribuan tapi bahkan jutaan. Wow… sebuah mimpi dan pekerjaan besar. Namun seperti kata orang bijak, tak ada sesuatu yang tak mungkin jika kita punya niatan dan kerja keras. Yuk wujudkan!!!

Source: http://www.berdesa.com/umkm-dan-desa/

UMKM dan Desa | admin | 4.5