Standarisasi Pertanian Desa

Wednesday, April 26th, 2017 - Peluang Usaha Kecil

PELUANGUSAHABARU.info

Standarisasi Pertanian Desa

Produk dan praktik pertanian desa akan menghadapi persaingan yang amat ketat. Terlebih dengan makin terbukanya produk sejenis yang berasal dari luar negeri. Maka produk dan praktik pertanian desa dituntut tuk memproduksi komoditas pertanian yang bermutu tinggi, terjamin, aman, efisien, ramah lingkungan, tak menimbulkan dampak sosial, dan dapat dirunut kembali (traceable) asal-usul proses yang dialui sebelum diperdagangkan dan digunakan.Standarisasi yang Ada di Pertanian meliputi Prosedur, Persyaratan, dan KegunaannyaStandardisasi ialah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar, yang dilaksanakan secara tertib lewat kerjasama dengan seluruh pihak yang berkepentingan. Standardisasi mutu produk berkaitan dengan appeareance/kenampakan, seperti : ukuran besar/volume, warna, kandungan air dan sebagainya yang ditentukan oleh penjual dan pembeli. Selain itu, mutu produk juga dikaitkan dengan masalah keamanan pangan, keamanan bagi manusia, hewan dan tumbuhan serta lingkungan. Standar standar produksi dan pengolahan produk pertanian seluruhnya disusun sebagai alat yang membantu mencegah tersingkirnya sebuah produk dari pasar.1. Metode HACCP (Hazard Analysis & Critical Control Points)HACCP ialah suatu konsepsi manajemen mutu yang diterapkan tuk memberikan jaminan keamanan produk pangan. Metode HACCP ialah suatu metode tuk melakukan risk analysis / analisa resiko terhadap bahaya yang disebabkan oleh makanan dalam proses penyediaannya dan setiap organisasi yang menjual produknya diwajibkan memenuhi persyaratan tersebut. HACCP ialah suatu sistem jaminan mutu yang berdasarkan kepada kesadaran bahwa hazard (bahaya) dapat timbul pada berbagai titik atau tahap produksi tertentu, tetapi dapat dilakukan pengendaliannya tuk mengontrol bahaya bahaya tersebut.Sistem HACCP ialah alat manajemen yang digunakan tuk memproteksi rantai pasokan pangan dan proses produksi terhadap kontaminasi bahaya-bahaya mikrobiologis, kimia dan fisik. Walaupun saat ini aplikasi HACCP baru dilaksanakan oleh industri-industri besar, tapi prinsip-prinsip dasarnya dapat diterapkan tuk industri kecil skala desa sebagai penopang industri pangan tradisional di desa.2. Praktek Pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP)GAP ialah tuk menjadi panduan umum dalam melaksanakan budidaya tanaman buah, sayur, biofarmaka, dan tanaman hias secara benar dan tepat, sehingga diperoleh produktivitas tinggi, mutu produk yang baik, keuntungan optimum, ramah lingkungan dan memperhatikan aspek keamanan, keselamatan dan kesejahteraan petani, serta usaha produksi yang berkelanjutan.Departemen Pertanian (2008) menerangkan bahwa penerapan GAP lewat Standar Operasional Prosedur (SOP) yang spesifik lokasi, spesifik komoditas dan spesifik sasaran pasarnya, dimaksudkan tuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan petani agar memenuhi keperluan konsumen dan mempunyai daya saing tinggi dibandingkan dengan produk padanannya dari luar negeri.Tahapan kegiatan pelaksanaan penerapan GAP ialah sebagai berikut : (1) sosialisasi GAP, (2) penyusunan dan perbanyakan budidaya, (3) penerapan GAP budidaya, (4) identifikasi kebun/lahan usaha, (5) penilaian kebun/lahan usaha, (6) kebun/lahan usaha tercatat/teregister, (7) penghargaan kebun/lahan usaha GAP kategori Prima-3, Prima-2 dan Prima-1, dan (8) labelisasi produk prima.Tuk mempercepat penerapan GAP dilakukan hal-hal sebagai berikut : (1) Mendorong terwujudnya Supply Chain Management (SCM), (2) Merubah paradigma pola produksi menjadi market driven, (3) Mendorong peran supermarket, retailer, supplier, dan eksportir tuk mempersyaratkan mutu dan jaminan keamanan pangan pada produk, (4) Penyediaan tenaga pendamping penerapan GAP, (5) Melakukan sinkronisasi dengan program instansi terkait lainnya, (6) Perumusan program bersama instansi terkait lainnya dan melakukan promosi, (7) Target kuantitatif pencapaian kebun GAP tercantum dalam Renstra Departemen Pertanian, (8) Membentuk dan memberdayakan lembaga sertifikasi tuk melakukan sertifikasi kebun dan produk Prima dan (9) Mendorong sosialisasi mekanisme sistem sertifikasi dan perangkatnya.Penyebab belum diterapkannya GAP dalam skala desa ialah mahalnya biaya yang harus dikeluarkan tuk menerapkannya. Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan tentu menjadi kendala besar tuk dapat diterapkan oleh para petani di Indonesia yang mayoritas masih berkutat dengan masalah kemiskinan dan lemah dalam SDM terutama dilihat dari tingkat pendidikan para petani di Indonesia. Tuk menerapkan GAP di Indonesia saat ini dioptimalkan tuk dilaksanakan oleh pola kemitraan petani/kelompok tani, pemerintah dan perusahaan agribisnis yang berorientasi ekspor.3. GHP (Good Handling Practice)GHP ialah prosedur sanitasi tuk distribusi produksi pertanian dari ladang hingga ke meja makan. Penerapan GHP dapat membantu mengurangi resiko kontaminasi terhadap produk segar selama penanganan, pengemasan, penyimpanan dan transportasi. Sehubungan dengan hal tersebut, tuk meningkatkan penerapan penanganan pascapanen di tingkat petani/gapoktan, asosiasi dan pengusaha. Program jaminan keamanan pangan meliputi program persyaratan (GAP, GMP, GHP, SOP) dan penerapan sistem HACCP serta ISO. Good Handling Practices diterbitkan dengan tujuan menekan kehilangan/kerusakan hasil, memperpanjang daya simpan, mempertahankan kesegaran, meningkatkan daya guna, meningkatkan nilai tambah dan daya saing, meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya dan sarana dan memberikan keuntungan yang optimun dan/atau mengembangkan usaha pascapanen yang berkelanjutan.4. GMP atau Good Manufacturing PracticesGMP atau Good Manufacturing Practices Ialah Cara / teknik berproduksi yang baik dan benar tuk menghasilkan produk yang benar memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. GMP ialah sistem pengendalian kualitas produk makanan, kosmetik dan obat-obatan yang pertama kali dikembangkan oleh FDA, sama seperti HACCP. GMP berisi kebijakan, prosedur dan metode yang digunakan sebagai pedoman tuk menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas dan higiene yang ditetapkan. Good Manufacturing Practices lebih berperan dalam proses produksi sebab elemen-elemen dalam GMP ialah elemen-elemen dalam sistem produksi5. GDP atau Good Distribution PracticesGood Distribution Practice (GDP) ialah bagian dari fungsi pemastian kualitas (quality assurance), tuk memastikan produk, agar secara konsisten disimpan, dikirim, dan ditangani sesuai kondisi yang dipersyaratkan oleh spesifikasi produk. Distributor pangan umumnya juga belum memahami Good Distribution Practice (GDP). Pemeriksaan terhadap sarana distribusi produk pangan dalam hal sanitasi, bangunan dan fasilitas yang digunakan, serta produk yang dijual yang memenuhi syarat sebagai distributor makanan.Secara khusus GDP diterapkan didalam industri farmasi/obat-obatan dengan nama lokal yaitu CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) dan dikontrol secara langsung oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Namun ternyata tak ada yang salah saat prinsip-prinsip GDP ini diterapkan diseluruh jenis industri selain industri farmasi. Good Distribution Practice atau GDP ialah sistem jaminan kualitas yang berhubungan dengan persyaratan : pengadaan, penerimaan, penyimpanan da pengiriman obat-obatan.6. GRP (Good Retailing Practices)Sebagai rantai pangan terakhir yang langsung berhubungan dengan konsumen yang akan mengkonsumsi produk pangan, ritel memainkan peranan penting sebagai katup pengaman terakhir yang harus dapat memastikan bahwa produk yang nantinya akan dikonsumsi masyarakat ialah benar-benar aman. Tuk memberikan jaminan keamanan terhadap produk pangan yang dijualnya supermarket perlu menerapkan cara-cara yang baik dan benar (best practices) dalam sistem usahanya. Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, secara tegas menetapkan bahwa setiap orang yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan pada rantai pangan yang meliputi proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan peredaran pangan wajib memenuhi persyaratan sanitasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pemenuhan persyaratan sanitasi tersebut dilakukan dengan cara menerapkan pedoman cara yang baik dan tuk bisnis ritel ialah dengan menerapkan Cara Ritel Pangan yang Baik atau Good Retailing Practices (GRP). Agar pangan yang dijual benar-benar terjamin aman, selain dengan menerapkan GRP, pengusaha ritel harus dapat mensyaratkan kepada pemasoknya tuk menerapkan cara –cara yang baik dalam produksi, maupun distribusinya termasuk dapat meminta kepada pemasok tuk menunjukkan sertifikat yang membuktikan bahwa pemasok atau petani telah menerapkan pedoman cara-cara yang baik tersebut.Oleh: Moh. IkhsanBaca juga : Terbuka, Pasar Makanan dan Minuman Produk Desa

Source: http://www.berdesa.com/standarisasi-pertanian-desa/

Standarisasi Pertanian Desa | admin | 4.5