Restrukturisasi Pelayanan Pada Desa Wisata

Sunday, May 21st, 2017 - Peluang Usaha Kecil

PELUANGUSAHABARU.info

Restrukturisasi Pelayanan Pada Desa Wisata

.entry-content .wpb_column{float:right} Oleh : Catur NugrohoSebagaimana diketahui bahwa negeri kita dilimpahi kekayaan sumber daya alam, keindahan alam dan keragaman budaya yang menghampar dari Sabang sampai Merauke. Tak salah jika Indonesia mendapat julukan Negeri Jamrud Khatulistiwa. Jika berbicara tentang potensi alam Indonesia tuk industri pariwisata, dapat amat panjang, tiada habisnya sebab melimpahnya kekayaan alam dan budaya yang menghampar. Akan amat sayang jika kita tak dapat memanfaatkan sebaik-baiknya karunia Tuhan ini tuk membangun desa dan warganya dalam sebuah desa wisata. Menjadi salah satu negara tujuan pariwisata internasional, seluruh elemen bangsa negeri ini harus berbenah, mulai dari Pemerintah beserta jajarannya (sampai ke tingkat Desa) terutama instansi terkait, pelaku usaha pariwisata dan masyarakat di sekitar area wisata. Dengan berbenah di segala lini, diharapkan sektor pariwisata dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada pemasukan negara, sebab menguatnya sektor wisata dengan kunjungan wisatawan yang deras berefek pada pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar yang biasanya berwirausaha di seputar ekonomi kreatif (suvenir, dll), dan jasa layanan wisatawan (penginapan, persewaan alat transportasi, dan lain-lain).Restrukturisasi FisikSelain faktor infrastruktur (jalan, air bersih, pelabuhan, bandara, dan lain-lain) dan transportasi publik, sebagaimana yang dirilis dalam indikator daya saing pariwisata atau TTCI (Tourism and Travel Competitiveness Index) oleh World Economic Forum (WEF), ada hal lain yang amat penting perlu diperhatikan dan itu menjadi kendala dan pekerjaan rumah kita yang amat serius jika kita ingin membangun desa wisata dan menumbuhkan minat kunjungan para wisatawan terutama wisatawan asing. Pentingnya membangun mental melayani di seluruh lini, khususnya di komunitas pemandu wisata dan masyarakat sekitar daerah wisata, yaitu semangat meyambut dan melayani wisatawan dengan hati.Restrukturisasi Semangat dan Mental Melayani WisatawanSalah satu situasi yang membuat wisatawan (terutama wisatawan asing) merasa tak nyaman dan menjadi kendala serius dari dulu hingga sekarang ialah masalah kebersihan. Banyak sekali daerah tujuan wisata Indonesia, terutama yang berlokasi di desa (desa wisata) kerap dijumpai kondisi kotor, sampah berserakan (terutama sampah bekas makanan dan minuman, puntung rokok), kurangnya tempat sampah di sekitar area wisata, sarana kebersihan yang kurang memadai, seperti kurangnya kamar kecil/toilet/rest room (seperti kamar kecil kondisi yang kotor, jorok dan tak terawat, airnya tak mengalir/air mampet), dan vandalisme (coretan-coretan jahil di tempat wisata, merusak fasilitas umum dan lain-lain). Apakah kita masih menjumpai hal tersebut di beberapa tempat tujuan wisata ?Hal-hal tersebut di atas yang membuat wisatawan (terutama wisatawan asing) menjadi enggan berkunjung ke Indonesia.Membangun budaya menjaga kebersihan amat krusial dalam industri pariwisata. Mungkin masih terekam dalam ingatan kita beberapa waktu lalu, saat sekumpulan wisatawan asing berinisiatif mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar wisata alam Gunung Rinjani yang terkenal keelokannya dan keeksotisannya di dunia itu. Tentu hal ini membuat kita miris. Kita yang seharusnya selalu menjaga wisata kita agar selalu bersih dan sehat, tapi ternyata justru orang asinglah yang lebih peduli.Membangun mental suka kebersihan harus dimulai dari sekarang, terutama diarahkan kepada seluruh elemen bangsa yang berada di sekitar area wisata (mulai dari dinas terkait, pelaku usaha pariwisata, masyarakat sekitar dan wisatawan itu sendiri) selain disediakan sarana kebersihan yang memadai. Tentu kita seluruh, tak peduli darimana kita berasal, pasti lebih merasa senang dan nyaman berada di lingkungan yang bersih sehingga terhindar dari resiko terkena penyakit. Coba bayangkan jika di area wisata terjangkit wabah penyakit yang disebabkan sebab kotornya lingkungan dan hal tersebut diekspos oleh media. Beberapa negara yang selama ini menjadikan kita sebagai tujuan wisatanya akan memberikan “travel warning” melarang warganya tuk berkunjung ke negeri kita. Betapa ruginya kita…Dalam membangun mental dan budaya bersih, tak cukup jika tanpa didampingi reward dan punishment sebagaimana layaknya di negara-negara maju yang telah terkenal sebab kebersihan lingkungannya. Akan amat bagus diterapkan sanksi yang mendidik bagi pelaku-pelaku yang menimbulkan kekotoran lingkungan misalnya denda atau kerja sosial. Budaya hidup bersih harus dibiasakan sehingga kelak akan melahirkan generasi yang merasa tak nyaman jika tak menjaga kebersihan.Melayani Dengan HatiBeberapa situasi yang kerap membuat tak nyaman para wisatawan, baik domestik maupun asing,  yaitu faktor keamanan. Selain faktor keamanan yang bersifat fisik, misal ancaman teror, pencurian, penipuan, kita juga menjumpai upaya-upaya yang membuat wisatawan tak nyaman tuk mengeruk keuntungan pribadi/kelompok pelaku. Sering kita jumpai mental yang “tak bersih” dalam pelayanan terhadap wisatawan baik wisatawan domestik maupun asing. Sering kita tak merasa bahwa itu ialah bagian dari mental yang “tak bersih” yang harus ditertibkan, jika tak ingin desa wisata kita “diboikot” wisatawan. Misal, tindakan dari oknum pedagang suvenir yang setengah memaksa wisatawan tuk membeli produknya. Atau oknum pepunya persewaan alat (misal sewa motor, mobil, perahu dll) yang sedemikian rupa “mengintimidasi” wisatawan agar mau menyewa alat-alatnya. Atau oknum pedagang yang menjual suvenir/produknya atau jasanya dengan harga yang tak rasional atau terlalu mahal (baca : mahalnya keterlaluan) terlebih kepada wisatawan asing.Akan lebih baik jika menjual produk/suvenir/jasa dengan harga yang wajar (tetap mendapatkan keuntungan), tetapi membuat wisatawan puas dan akan kembali lagi berkunjung dan merekomendasikan kepada wisatawan lain tuk berkunjung di masa depan, daripada mendapat keuntungan berlipat (hasil menipu) namun hanya sekali itu saja dan selanjutnya wisatawan kapok berkunjung kembali atau tak merekomendasikan desa wisata kita kepada yang lain.Hal-hal ketaknyamanan tersebut di atas ialah keluhan-keluhan wisatawan yang pernah disampaikan oleh asosiasi Guide/Pemandu wisata dalam suatu acara yang bertema menggairahkan pariwisata beberapa waktu lalu. Tragis bukan ?Juga beberapa pungutan di luar regulasi formal yang berlaku alias pungutan liar yang dilakukan oleh oknum-oknum di seputar dunia wisata desa. Penyakit-penyakit mental kronis semacam ini yang harus dikikis habis oleh seluruh pihak yang mencintai pariwisata kita, yaitu kita seluruh.Mari kita bangun desa wisata kita dimulai dengan membangun mental bersih dari diri kita sendiri. Keuntungan finansial memang penting, tapi menjaga reputasi desa wisata yang nyaman jauh lebih penting. Close Admin Berdesa      4.8( 1 ratings ) jQuery(‘#rate-1’).raty({ halfShow : true, half: true,click: function(score,evt){ ratebyuid(“1”,score); },score: 4.80625, path: “http://www.berdesa.com/wp-content/plugins/userpro-rating/images/” }); 401 artikel 0 following 0 followers div.userpro-awsm-pic{margin-left:-48px;top:-48px;}div.userpro-awsm-pic img{width:86px;height:86px;}div.userpro,div.emd-main,div.emd-filters,div.userpro-search-results,div.userpro-label label,div.userpro input,div.userpro textarea,div.userpro select,div.userpro-field textarea.userpro_editor,div.userpro-msg-overlay-content,div.userpro-msg-overlay-content input,div.userpro-msg-overlay-content textarea,div.userpro-notifier{font-family:Open Sans;}div.userpro-373{max-width:100%;margin-left:auto;margin-right:auto;margin-bottom:30px;}div.userpro-373.userpro-nostyle{max-width:250px;}div.userpro-373.userpro-users{max-width:100%!important;}div.userpro-373 div.userpro-user{margin-top:15px;margin-left:30px;margin-right:30px;}div.userpro-373 div.userpro-user a.userpro-user-img{width:120px;height:120px;}div.userpro-373 div.userpro-user a.userpro-user-img span{top:-120px;line-height:120px;}div.userpro-373 div.userpro-user div.userpro-user-link{width:120px;}div.userpro-373 div.userpro-user a.userpro-user-img,div.userpro-373 div.userpro-user a.userpro-user-img span{border-radius:999px!important;}div.userpro-373 div.userpro-list-item-i{width:50px;height:50px;}div.userpro-373 div.userpro-online-item-i{width:30px;height:30px;}div.userpro-373 div.userpro-online-item{border-bottom:0px!important;padding:10px 0 0 0;}div.userpro-373 div.userpro-online-item img.userpro-profile-badge,div.userpro-373 div.userpro-online-item img.userpro-profile-badge-right{max-width:14px!important;max-height:14px!important;}div.userpro-373 div.userpro-profile-img{width:80px;}div.emd-user{width:23%;margin-left:1%!important;}div.userpro-profile-img img,div.userpro-pic-profilepicture img,div.userpro-list-item-i,div.userpro-list-item-i img,div.userpro-online-item-i,div.userpro-online-item-i img,div.userpro-post.userpro-post-compact div.userpro-post-img img,a.userpro-online-i-thumb img,div.userpro-awsm-pic img,div.userpro-awsm-pic,div.userpro-sc-img img{border-radius:3px!important;}

Source: http://www.berdesa.com/restrukturisasi-pelayanan-desa-wisata/

Restrukturisasi Pelayanan Pada Desa Wisata | admin | 4.5