Pulang Membangun Desa Dan Menjadi Sejahtera

Thursday, May 11th, 2017 - Peluang Bisnis Desa

PELUANGUSAHABARU.info

Pulang Membangun Desa Dan Menjadi Sejahtera

Oleh: Nabila InayaEkonomi pedesaan dan ekonomi perkotaan ialah dua hal yang tak dapat dibandingkan. Jika laju perekonomian di kota dapat demikian pesat, pertumbuhan ekonomi di desa justru terkesan lambat. Padahal, ekonomi pedesaan idealnya dapat berperan sebagai penyokong ekonomi perkotaan sehingga tercipta keseimbangan di antara keduanya. Namun, yang terjadi justru ketimpangan di antara keduanya kini semakin kentara.Menurut riset, angka pertumbuhan urbanisasi di Indonesia telah mencapai 57,4% sehingga menduduki posisi terbesar kedua di ASEAN. Musim urbanisasi biasanya terjadi setelah Lebaran, dimana orang-orang yang telah bekerja di kota akan mengajak sanak saudaranya tuk ikut merantau. Kondisi ini menjadi semakin memprihatinkan lantaran mereka yang melakukan urbanisasi tak mempunyai bekal ketrampilan yang mumpuni, bahkan rata-rata hanya berbekal ijazah SD atau SMP. Demi bertahan di kota, mereka pun rela bekerja serabutan dengan upah yang terbilang minim. Beberapa pekerjaan yang umumnya dilakoni ialah pekerja bangunan, pembantu rumah tangga, buruh galian, atau buruh cuci. Selain itu, tak sedikit pula yang akhirnya justru terlibat pekerjaan-pekerjaan lain yang sifatnya kriminal.Kondisi inilah yang kemudian digagas oleh “Ekonomi Lokal”, yaitu sebuah lembaga yang melakukan pendampingan dan inkubasi bisnis kepada pengusaha muda di desa secara “keroyokan”. Semangat yang digaungkan ialah mengajak anak-anak muda yang melakukan urbanisasi tuk kembali pulang ke desanya. Mereka akan mendapat pendampingan sehingga dapat berwirausaha dan mengembangkan potensi di desanya.Pendampingan yang diberikan oleh Ekonomi Lokal ini meliputi analisa dan studi kelayakan bisnis, pembuatan model bisnis, membangun jaringan dengan stakeholder (supplier, konsumen, distributor, dan lain-lain), permodalan dengan sistem sharing profit, serta menggagas dan menghidupkan komunitas bisnis di desa tersebut. Disebutkan bahwa pendampingan yang dilakukan oleh Ekonomi Lokal bersifat keroyokan. Artinya, berbagai pihak dapat bergabung dan ikut membantu dengan kepasitasnya masing-masing. Misalnya, pengumpulan dana dengan sistem donasi dilakukan tuk pengembangan usaha di desa dampingan. Sementara, perkara pengembangan potensi daerah juga dapat melibatkan banyak pihak dengan donasi berupa sharing pengetahuan dan ketrampilan.Donasi-donasi yang terkumpul kemudian digunakan tuk mendampingi para Pahlawan Ekonomi Lokal, yaitu mereka yang bersedia pulang ke desa dan memulai berwirausaha. Mereka akan menjalani proses On Job Training hingga akhirnya menguasai satu bidang usaha yang ingin mereka geluti. Salah satu yang telah berhasil menyandang gelar Pahlawan Ekonomi Lokal ialah Pak Jebor dari Banyuwangi. Pria berusia 30 tahun ini sebelumnya bekerja sebagai buruh galian di Bali. Demi dapat mendapat penghasilan dan mencukupi keperluan keluarga, Pak Jebor harus rela tinggal terpisah dari istri dan kedua anaknya.Namun setelah mengetahui gerakan yang dicanangkan Ekonomi Lokal, Pak Jebor akhirnya mantap memilih tuk kembali pulang ke desanya dan berwirausaha. Pak Jebor mendapat pendampingan dari komunitas binaan Ekonomi Lokal sehingga dirinya dapat mempunyai beberapa kolam lele yang dijadikan sumber penghasilan. Berhasil jadi Pahlawan Ekonomi Lokal, Pak Jebor kemudian mengajak beberapa rekannya seperti Ady, Kento, dan Kebud yang sebelumnya juga bekerja serabutan di kota. Mereka akhirnya pulang dan menjadi pengusaha lele yang tergabung dalam komunitas Lele Booster Agus Banyuwangi binaan Ekonomi Lokal.Bantuan pun datang dari Pak Eka, seorang pengusaha yang mempunyai jaringan bisnis baik di dalam maupun luar negeri. Peduli pada UKM di desa, Pak Eka sepakat tuk membantu menghubungkan komunitas Lele Booster Agus Banyuwangi dengan berbagai supplier dan jaringan pemasaran yang ada di wilayah Banyuwangi dan Bali. Dengan bantuan dari banyak pihak, komunitas Lele Booster Agus Banyuwangi binaan Ekonomi lokal pun telah mempunyai 90 unit kolam dan akan terus dikembangkan menjadi usaha yang lebih besar lagi.Gerakan pulang ke desa yang digagas kelompok Ekonomi Lokal utamanya ialah menciptakan sumber penghasilan bagi masyarakat desa. Khususnya agar sumber-sumber penghasilan tersebut dapat dikelola secara mandiri dan profesional. Selain tentu saja akan memperkecil angka urbanisasi, gerakan ini menjadi salah satu cara tuk meningkatkan perekonomian pedesaan.Berhasil mendampingi Pak Jebor dan teman-temannya, Ekonomi Lokal kini kembali mempersiapkan sebuah prototipe bisnis jamur di Desa Jambewangi, Kabupaten Banyuwangi. Satu prototype ini ditargetkan tuk menjaring 50 pemuda desa agar tergerak pulang dan menjadi Pahlawan Ekonomi Lokal.Tuk menghimpun dana, tim Ekonomi Lokal menggalang donasi lewat kitadapat.com. Selain itu, mereka juga mendaftarkan diri sebagai salah satu finalis kompetisi “IDEAS FOR INDONESIA” di ajang IDEAFEST2015. IDEAFEST sendiri ialah festival kreatif yang digelar setiap 2 tahun sekali. Tahun ini mengusung tema “creativity with purpose”, IDEAFEST bertekad tuk membantu menyebarkan semangat social entrepreneurship di Indonesia. IDEAFEST pertama kali digelar di tahun 2011 dengan melibatkan beberapa tokoh inspiratif seperti Stefan Sagmeister, Basuki Purnama, Anies Baswedan, dan Peter Gontha. Menurut Ben Subiakto selaku Festival Director IDEAFEST 2015 sekaligus founder gerakan IDEAFEST, anak muda Indonesia memang seharusnya tak bergantung lagi pada orang lain dan mau bergerak tuk ikut membantu menyelesaikan masalah sosial yang ada di Indonesia.Dan pada akhirnya, menggerakkan ekonomi pedesaan tak lantas menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Generasi muda justru dapat mengambil peran penting dalam usaha memajukan ekonomi di desa. Bukannya angkat tangan, anak muda malah harus turun tangan membangun desanya. Bagaimana pun, perekonomian desa yang kuat akan menyokong perekonomian Indonesia.

Source: http://www.berdesa.com/pulang-membangun-desa-dan-menjadi-sejahtera/

Pulang Membangun Desa Dan Menjadi Sejahtera | admin | 4.5