Kisah Rahmawati Perempuan Juragan Tambal Ban

Wednesday, April 12th, 2017 - Inspirasi dan Motivasi

PELUANGUSAHABARU.info

Kisah Rahmawati Perempuan Juragan Tambal Ban

Kisah Rahmawati Perempuan Juragan Tambal Ban

Perempuan yang bergerak pada bisnis yang berkaitan dengan otomotif, jumlahnya masih relatif sedikit. Jikapun ada, paling-paling hanya sebagai sales promotion girls (SPG) tuk produk-produk yang dibutuhkan di dunia otomotif. Seperti para SPG di POM Bensin yang baru beberapa tahun ke belakang mulai bermunculan. Perempuan pada umumnya enggan berdekatan dengan kondisi kotor yang dihasilkan dari kendaraan bermotor. Namun tak demikian dengan Rahmawati. Lulusan UNPAD Bandung jurusan Sastra Sunda tahun 2005 ini, malah memilih berbisnis dengan membuka kios tambal ban kendaraan bermotor.

Bisnis tambal ban memang tak asing lagi bagi perempuan kelahiran Bandung 1980 ini. Didi, ayahnya yang telah pernah menjadi sopir, membuka usaha pembuatan vulkanisir ban. Namun tak lama kemudian bangkrut. Ia lalu membuka usaha tambal ban dengan menyewa sebuah kios di daerah Cibiru Bandung. Selain membuka jasa tambal ban ia juga menerima jual beli ban bekas dan ban vulkanisir yang dibeli dari orang lain. Usai dua tahun membuka kios ia membeli kios tak jauh dengan kios lamanya yang dikontrak. Sejak saat itulah ia memindahkan tempat usahanya diatas tanah punyanya sendiri.

Di luar itu, ia juga pernah memproduksi jok dari karet ban mobil, akan tetapi usahanya ini hanya berjalan sekitar 5 tahun. Hanya kios tambal ban punyanya inilah yang terus bertahan sampai sekarang. Tuk meluaskan usahanya Didi mencoba mencari tempat usaha lain. Akhirnya ia menemukan tempat yang dirasa strategis tuk membuka usahanya. Yaitu di daerah pangalengan. Ia memilih tempat itu sebab berada dekat terminal pangalengan dan waktu itu belum ada orang yang membuka usaha tambal ban dan penjualan ban vulkanisir disana. Toko yang dinamai Sawargi ini kemudian dipercayakan pengelolaannya kepada dua adik didi. Usai usia Didi semakin tua usaha tambal ban di pangalengan kemudian di limpahkan kepada anaknya rahmawati.
Menyukai Bisnis Sejak SMA
Sebagai anak yang berbakti Rahma telah sering membantu orang tuanya berjualan di toko.ketika masih Sma Ia dan kakak pertamanya bahkan sering diminta tuk membeli bahan baku tuk tokonya. Kegiatan ini terus berlangsung hingga ia kuliah, dari situlah dia mulai merasakan enaknya nebjadi pengusaha yaitu saat menerima rupiah demia rupiah dari pembeli ban atau konsumen jasa tambal ban. Kenikmatan berjualan ini bahkan sempat membuatnya sedikit malas kuliah, walaupun akhirnya dia berhasil merampungkan kuliahnya.
Dari pengalaman berjualan ban vulkanisir, ia berkesimpulan jika bisnis ini lebih menguntungkan dari pada berjualan ban baru yang membutuhkan modal besar, Kendati mendapatkan persentase keuntungan yang lebih besar pula. Sedangkan tuk ban vulkanisir tak membutuhkan modal besar. Ia dapat mendapatkan diskon 20% tuk setiap ban yang ia beli. Tak peduli berapa banyak ban yang di beli, harganya pun bervariasi yaitu Rp 150rb-Rp 850rb tuk ukuran roda 12-16 sedangkan ban baru harganya berkisar antara Rp 250rb-Rp 1,25 jta tuk ukuran yang sama.
Bermodalkan pengalaman membantu orang tua inilah ia memberanikan diri mengelolah dan meneruskan usaha orang tuanya itu. Rahmawati mulai mengelolah toko yang ada di pangalengan sejak tahun 2004. Pada awal memasuki usaha ini kehadirannya sempat membuat aneh para pelanggan di tokonya, meski ia tak turun langsung menambal ban pelanggannya tetapi kehadiran seorang perempuan di toko tambal ban apalagi sebagai pengelolah telah cukup membuat orang merasa aneh.
Keanehan dan keheranan orang disekitarnya dapat berefek postif dan negatif bagi pekembangan bisnis yang dikelolahnya.Positifnya, semakin banyak orang yang datang meski mungkin awalnya hanya merasa penasaran tuk melihat langsung sosok perempuan pengelolah bengkel tambal ban itu. Namun disisi lain, Rahma kadang menjadi risih menghadapi para pelanggan pria yang sedikit iseng kepadanya. Pada akhirnya Rahma memang harus siap dengan resiko ditinggalkan pelanggan sebab ia tak melayani keisengan mereka. Baginya itulah resiko berbisnis dilahan yang identik punya kaum adam.
Meski apapun resikonya ia terus mengelolah usaha tambal ban mobil dan motor, termasuk jual beli ban bekas dan ban vulkanisir, namun kini ia mulai berinovasi, jika selama ini ia hanya menjual ban luar, ia mulai menambahkan ban dalam mobil dan motor sebagai barang dagangannya. Modalnya tentu saja dengan mengambil dari sisa keuntungan setiap bulan. Barulah tahun 2005 dengan melihat keperluan pembeli, Rahma mengeluarkan dana lebih besar yaitu sekitar Rp 10 juta tuk membeli oli.
Pada tahun 2006 ia menambah jasa pencucian mobil dan motor di tokonya. Usai sedikit demi sedikit mengumpulkan dana Rahma pun sanggup membeli toko yang berada di sebelah tokonya. Ia berharap dengan menambah lokasi di toko barunya itu, tokonya akan lebih leluasa dan menambah barang dagangan lain.
Dengan semakin bertambah maju usahanya, ternyata semakin berat pula tantangan yang harus dihadapi dan salah satunya ialah pesaing. Kini mulai bermunculan toko atau kios yang membuka usaha yang sama. Salah satunya bahkan mantan karyawan ditokonya yang kini membuka usaha sendiri dengan jenis jasa yang sama. Bagi pelanggan yang telah mengenal karyawannya itu dan merasa enak berbisnis dengan dia otomatis akan beralih kepadanya. Akan tetapi bagi pembeli yang hanya mengenal tepat usahanya di toko Sawargi otomatis akan tetap setia mendatangi tokonya. Kondisi ini sempat membuat omzet toko Rahma menurun. Jika dulu dapat mencapai 2-3 juta perhari, saat ini rata-rata ia hanya dapat mengantongi Rp 1 juta rupiah perhari.
Dengan kegigihan dan kerja kerasnya dalam mengelolah bisnis, pada usianya yang baru 28 tahun Rahma telah sanggup mempunyai mobil keluaran jepang dengan harga Rp 165 juta meski di beli secara kredit. Ia juga sedang membangun ruko baru disebelah rukonya yang lama di jalan raya pangalengan No.19 tuk melebarkan usahanya.
Kunci Sukses Bisnis Ala Rahmawati
Saat kita membangu usaha, berpikirlah pada keuntungan yang dapat kita raih dengan menjadi pebisnis dibanding menjadi pegawai kantoran. Insyah allah kita akan kembali bersemangat membangun usaha kita.

Source: http://peluangusaharumahan.info/kisah-rahmawati-perempuan-juragan-tambal-ban

Kisah Rahmawati Perempuan Juragan Tambal Ban | admin | 4.5