Ideologi Konsumsi Manusia Mall

Thursday, April 13th, 2017 - Peluang Bisnis Desa

PELUANGUSAHABARU.info

Ideologi Konsumsi Manusia Mall

Esai FX Rudy GunawanWarga desa tersihir oleh kota antara lain sebab mall sebagai pewujudan ideologi konsumsi. Sihir ini antara lain memakai peran media sebagai saluran propaganda lewat iklan yang amat besar membentuk dan menancapkan ideologi konsumsi dalam proses kehidupan sosial masyarakat dan struktur universal dari makna ideologi konsumsi. Lewat media (cetak, elektronik, online) setiap hari propaganda ideologi konsumsi terus-menerus ditancapkan dalam kesadaran masyarakat. The content of the mall experience ialah “the form of the content”. Isi pengalaman berada di mall ialah bentuk dari isi itu sendiri. Fantasi yang dibangun lewat desain dan arsitektur mall digunakan tuk memperkuat budaya konsumsi global kehidupan modern dengan sistem tanda yang terus diproduksi oleh media images, status pressure dan advertising.Perilaku masyarakat yang dipengaruhi propaganda konsumerisme, termasuk rakyat desa, menjadikan belanja sebagai hobi yang mungkin paling banyak diminati. Konsumerisme sebagai hobi ialah pemuasan kesenangan ganda. Pola konsumsi yang dibentuk oleh kapitalisme membuat konsumerisme menjadi budaya masyarakat dari segala lapisan dan latar belakang apapun. Seluruh melebur menjadi konsumen dengan hobi belanja dan identitas diri yang ditentukan oleh hobi dan pola konsumsi mereka. Dan seluruh proses ini terlaksana dengan cepat antara lain sebab kekuatan media massa yang juga telah menjadi bagian dari industri kapitalisme global.Proses ini juga diperkuat oleh keberhasilan menancapkan hedonisme pada eksistensi manusia sebagai shopping being. Hedonisme sebagai pemujaan dan pengejaran terhadap pemuasan kesenangan ialah salah satu konstruksi dasar kapitalisme dalam membentuk pola perilaku masyarakat kapitalis. Sebab itu, membaca sistem tanda mall harus dibagi dua, yaitu membaca penanda (signification) secara paradigmatik dan sintagmatik. Paradigmatik melibatkan motif desain mall sebab mall sendiri ialah sebuah tanda dan sintagmatik ialah membaca elemen-elemen terpisah di dalam mall dimana makna diproduksi lewat metonymy atau contiguity. Konten dan ekspresi yang direpresentasikan mall pun mengalami dikotomi dalam pengalaman individual para manusia mall. Membaca eksistensi manusia mall sebagai shopping being, dengan sendirinya juga harus dilakukan dengan secara paradigmatik dan sintagmatik.Paradigmatik dapat dibaca lewat image manusia shopping being dari berbagai sumber yang dikonstruksi oleh ideologi konsumsi. Sintagmatik dapat dilakukan dengan cara analisa seluruh elemen dalam eksistensi shopping being dan elemen-elemen dunia baru yang menjadi ruang meng-ada seluruh manusia konsumsi. Membedah ideologi konsumsi yang muncul sebagai propaganda media ialah salah satu hal penting dalam membaca secara sintagmatik. Dengan cara ini dasar filosofis eksistensial shopping being (aku belanja maka aku ada) akan terpetakan, baik secara sosial, kultural, maupun politik dan ekonomi. *

Source: http://www.berdesa.com/ideologi-konsumsi-manusia-mall/

Ideologi Konsumsi Manusia Mall | admin | 4.5