Eksisnya Lurik, Produk Desa Pengusung Nilai Budaya

Thursday, May 18th, 2017 - Peluang Usaha Kecil

PELUANGUSAHABARU.info

Eksisnya Lurik, Produk Desa Pengusung Nilai Budaya

Bolehlah Paris, Perancis disebut sebagai kiblat mode dunia. Tapi sesungguhnya kita tak perlu melongok ke negeri nan jauh dengan musim yang jelas berbeda dengan negeri Indonesia itu. Soalnya Indonesia sendiri punya beragam pesona fesyen berbahan tradisional asli produk desa. Salahsatunya lurik buatan Yogyakarta yang diproduksi warga desa.Lurik telah memikat kita sejak dari namanya. Berasal dari kata ‘rik’ yang berarti pagar atau pelindung sang pemakai sehingga lurik mengandung makna sebagai cermin sang pemakai. Lurik berbeda dengan tekstil yang diproduksi massal dengan mesin, lurik dibuat secara konvensional mengunakan mesin tenun dan setiap coraknya mengandung makna tertentu. Lurik ialah produk budaya.Kurnia Lurik ialah salahsatu rumah penghasil lurik yang eksis hingga hari ini. Terletak di KM 3,5 Jl Parangtritis, Yogyakarta, Kurnia bak penjaga tradisi nilai luhur lurik. Bagaimana tak, ketika industri fesyen bergerak cepat dan berkiblat ke pusat-pusat mode dunia, salahsatunya Paris, Kurnia tetap setia melahirkan produk desa, lurik. Ratusan lembar lurik lahir dari tangan para pewaris produk budaya ini setiap hari. Inilah yang membuat Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta disebut sebagai pusatnya lurik di Kota Budaya.Selain memenuhi keperluan ‘fesyen tradisional’ yang menjadi pasar paling lestari dari lurik selama ini, lurik juga terus melakukan inovasi tuk dapat bersaing di jagad kain modern. Sebabnya Kurnia terus mengembangkan motif luriknya serta melahirkan berbagai produk turunan lurik seperti kemeja, tas dan tentu saja pakaian adat Jawa.Maraknya jual beli online juga menjadi salahsatu alat yang membuat corak lurik lebih dikenal masyarakat luas kini. Jangan aget jika produk-produk lurik mulai memasuki industri fesyen online. Kini sebagian karya para penenun lurik Kurnia telah terpajang di www.usahadesa.com. Akankah lurik dapat bersiang dengan fesyen modern?Itta Enima adhttp://www.usahadesa.comalah salahsatu perempuan muda yang menancapkan dirinya dalam fesyen berbahan kain-kain tradisional, salahsatunya lurik. “ Saya yakin lurik dapat berkembang bahkan menjadi ikon yang unik dalam fesyen jika digarap serius begitu juga kain tradisional lainnya,” kata pepunya Java Studio ini. Faktanya selama ini lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu menekuni bahan-bahan seperti lurik di rumah produksinya dan terus mengembang. “ Pesanan selalu datang dan disain produk seperti ini juga menantang sebab unik,” kata disainer yang tinggal di Bantul, Yogyakarta ini.Lurik, kata Itta, bahkan mempunyai kelas khusus dalam segmen-nya. “ Rata-rata yang memesan disain pakaian lurik justru kalangan menengah dan orang-orang yang melek fesyen. Jadi lurik punya nilai yang tinggi di antara jenis kain lainnya,” katanya. Itta yang menggarap segmen khususnya perempuan ini bahkan mematok karyanya di atas Rp. 250 ribu per potong. “ Nyatanya pemesan tak pernah sepi di rumah produksi kami,” kata dia.Posisi lurik juga yang unik itu juga sebab hingga saat ini lurik digunakan orang-orang penting di Keraton Yogyakarta dan kalangan elit sosial masyarakat. Sehingga lurik mempunyai posisi sosial khusus sebagai sebuah komoditi. Selain itu Lurik, kata Itta, sesungguhnya jenis kain yang gampang dipadu-padankan dengan kain lainnya. Makanya lurik amat responsif tuk menjadi bahan tas, dompet, atau sarung model kabuki yang mirip dengan celana tradisional laki-laki di Jepang.“ Kenapa kita harus berkiblat pada tren negeri lain yang jelas dari musimnya saja berbeda dengan kita.  Yang paling menyedihkan ialah, kenapa produk desa yang begitu indah seperti lurik dan beragam kain tenun tradisional yang coraknya amat khas malah dilupakan. Bukankah jika kita serius mengolahnya itu justru dapat kita jual di pasar internasional?’ tutur Itta.

Source: http://www.berdesa.com/eksisnya-lurik-produk-desa-pengusung-nilai-budaya/

Eksisnya Lurik, Produk Desa Pengusung Nilai Budaya | admin | 4.5