‘Carpenter Village’, Berbagi Rejeki dari Produk Desa

Monday, May 15th, 2017 - Peluang Usaha Kecil

PELUANGUSAHABARU.info

‘Carpenter Village’, Berbagi Rejeki dari Produk Desa

Tak banyak yang dapat dilakukan warga di perkampungan ini terhadap tanah mereka. Letak desa mereka di pegunungan membuat tanah mereka tak dapat diandalkan tuk bertani. Terlalu banyak bebatuan dan tak cukup air tuk tanaman di tanah tegalan mereka. Sebabnya, sejak puluhan tahun lalu leluhur mereka telah melahirkan produk desa dengan bertukang kayu tuk menopang hidup mereka, hingga hari ini. Uniknya, seluruh warga mempunyai peran yang berbeda-beda pada UKM ini.Namanya Desa Temuwuh, Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Di desa ini suara palu dan penyerut kayu ialah musik sehari-hari. Setiap hari seluruh warga berjibaku dengan keahlian mereka mengolah beragam jenis kayu sebagai pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) . Hasilnya, rupa-rupa peroduk desa mereka lahirkan tetapi yang paling banyak ialah membuat daun pintu dan jendela. Uniknya mereka memasarkan produk desa itu dengan cara konvensional.Besari, 42 tahun, s alahsatu warga mengungkapkan, sebab telah menjadi profesi turun-temurun, akhirnya mereka menerjuni pekerjaan yang sama dengan kakek dan bapaknya.” Di kampung kami tak perlu pusing cari kerjaan. Jika mau bertukang kayu, tinggal jalan saja,” katanya. Yang dimaksud tinggal jalan saja ialah sebab di desa ini warga telah membagi perannya masing-masing. Seluruhnya masuk dalam standar UKM dan selama ini saling menopang dan menghidupi.Sebagian warga memilih menjadi pencari bahan baku dan menjualnya dalam gelondongan. Warga lainnya membuka gergajian dan mengolah gelondongan menjadi lempengan-lempengan. Warga lainnya memilih menyiapkan modal tuk membeli bahan lalu diserahkan pada warga lain yang memilih menjadi pengolah kayunya menjadi hampir produk setengah jadi. Uniknya, kaum perempuan bahkan masuk ke rantai mata pencaharian ini.” Para perempuan bekerja pada bagian finishing atau penghalusan yaitu menggosok daun pintu. Biasanya dilakukan ibu-ibu,” ujar Tukimin, warga lainnya.Usai produk desa itu dinyatakan siap jual bakal ada dua pilihan. Si pepunya produk dapat menjualnya sendiri dengan membawanya ke kota dan dijual kelilingan. Biasanya mereka menggunakan mobil bak terbuka keliling kampung, perumahan dan pemukiman warga kora. Sebagian lagi menggunakan semacam gerobak dan menawari rumah ke rumah produk desa mereka.Jika ingin fokus pada pengerjaan produk, mereka dapat menyerahkan produknya pada kelompok warga yang menerjuni bagian pemasaran dan membuat perjanjian pembagian hasil dari penjualan. Cara ini lebih efisien sebab si tukang kayu tak perlu repot memikirkan pemasaran produknya dan si penjual tak perlu pusing menyiapkan dagangannya. Begitulah jalur pembagian alamiah yang terjadi bertahun-tahun di kampung ini. Pembagian kerja pada rangkaian UKM ini terjadi secara alamiah.Meski telah berjalan lama tetapi warga kampung ini terus mencari cara melakukan pembaharuan mengenai cara mereka bekerja. Mereka ingin mempunyai sistem kerja dan pemasaran yang jauh lebih efisien misalnya dengan menciptakan sistem pemasaran terpadu, packaging yang baik dan pasar lebih luas. Tujuannya, agar produk desa mereka mengalami perluasan pasar, kenaikan omset dan kualitas.Mereka juga sedang mencari cara membangun sistem simpan pinjam yang dapat mencukupi keperluan modal mereka tetapi dengan bunga yang kecil dan kelenturan dalam pengembaliannya. “ Ada banyak warga yang nekat meminjam uang ke bank dan tak sanggup mengembalikan sehingga kehilangan tanah atau rumah. Kami berharap ada cara yang cara yang lebih baik agar kami dapat mendapatkan akses pinjaman modal yang lebih lunak, berbunga kecil dan mempunyai toleransi,” ujar Aris, salahsatu pelaku usaha.(dji-1)Foto: Google

Source: http://www.berdesa.com/carpenter-village-berbagi-rejeki-dari-produk-desa/

‘Carpenter Village’, Berbagi Rejeki dari Produk Desa | admin | 4.5